Thursday, February 11, 2016

Nasihat Syaikh Mustafa Untuk Kaum Muda NU Syaikh

Syaikh Mustafa Pada Event Seminar Pra Muktamar NU di Makasar


Syaikh Mustafa Mas'ud , menasihati kaum muda NU untuk instrospeksi diri dan merenungi kondisi serta peran perjuangan jam'iyyah Nahdlatul Ulama terhadap bangsa Indonesia.
"Semoga NU akan menjadi suatu majelis yang bertumpu pada kesadaran, segala sesuatu karena rahmat Allah, supaya kami dapat merasakan betapa nikmatnya rahmat-Mu itu. Tercapai sudah perjuangan bangsa Indonesia untuk memulihkan kembali kemerdekaannya. Ini berkat rahmat Allah yang Mahakuasa," tuturnya saat memimpin Istighotsah penutupan Musyawarah Kaum Muda NU, Senin (3/8) sore, di halaman Universitas Wahab Chasbullah, Jombang.

Syeikh Mustafa mencontohkan tentang sosok tokoh NU yang juga menteri agama KH Abdul Wahid Hasyim. Kiai Wahid, dahulu pukul 10 pagi masuk kantor dengan melantunkan surat al-Baqarah, kemudian ashar pulang sudah sampai surat an-Nas.

"Berarti (Abdul Wahid Hasyim) satu hari khatam sekali al-Qur'an. Ini akhlaknya NU. NU kok shalatnya telat, NU kok ngrasani (menggunjing) orang," singgung Mursyid Tarekat Naqshbandi Nazhimiyah itu di hadapan ratusan kamu muda NU yang tergabung dari GP Ansor, Fatayat NU, PMII, IPNU, IPPNU, JNM, PPM Aswaja, HIPSI, dan lain-lain.

Dalam istighotsah tersebut, Syeikh Mustafa Mas'ud membacakan dzikir yang mengandung asmaul husna, shalawat Nabi, pujian kepada para wali, dan dzikir-dzikir lainnnya.

"Alhamdulillah petang ini kita bisa menjalani prosesi istighasah yaitu mengambil kesejukan dari Allah. Setiap orang mempunyai aura. Insyaallah lewat Istighotsah ini aura kalian semakin besar untuk mewarnai Nahdlatul Ulama sampai muktamar yang akan datang," doanya diamini serentak oleh hadirin.

Syeikh Mustafa mengimbau kepada kaum muda NU supaya tidak sembarang menyalahkan situasi dan kondisi Muktamar Ke-33 NU di Jombang kali ini. "Jangan mencela yang salah, kita tidak bisa menghakimi orang tua. Kita doakan, agar beliau-beliau diberi petunjuk Allah," harapnya. 

Musyawarah Kaum Muda NU yang berlangsung 2-3 Agustus 2015 di arena Muktamar Ke-33 NU ini merupakan forum perbincangan, silaturrahim, dan jumpa gagasan kaum muda NU dari berbagai profesi, komunitas, keahlian, konsentrasi keilmuan, serta gerakan di masyarakat. Sementara forum yang dimusyawarahkan mulai dari keislaman Aswaja, persoalan keumatan, hingga perpolitikan.

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/61380/syaikh-mustafa-mas039ud-nasihati-kaum-muda-nu

Wednesday, February 10, 2016

Bacaan Sholawat Sebagai Hadiah Ulang Tahun Mawlana Syaikh Mustafa




Pada 25 Januari 2016 ,Bertepatan dengan Milad / Hari kelahiran Guru Kami Tercinta Syaikh Mustafa Mas'ud ,sebagai bentuk kecintaan para murid berinisiatif untuk memberikan kado kepada Beliau ,Berupa Bacaan Sholawat yang di hadiahkan kepada Beliau,sebagai koordinator bacaan yang Sholawat yang di hadiahkan kepada Beliau adalah Bang Widi Rajaka,melalui grup Whats app para murid melaporkan jumlah bacaan Sholawat yang terkumpul,bermacam macam setoran sholawat ,ada yang dari perorangan maupun dari jamaah yang sengaja berkumpul demi memberikan hadiah bacaan Shalawat untuk Syaikh Mustafa Mas'ud Guru kami yang tanpa lelah membimbing kami dengan kasih sayang dan ketulusan yang luar biasa ,bahkan sering rasa capek dan badan yang kurang fit dan sehat tidak Beliau hiraukan demi cinta Beliau kepada kami para Murid. 




Bacaan Shalawat yang semula di Targetkan 1.000.000 Shalawat,telah terlampaui sehingga mencapai jumlah total hingga tanggal 23 januari atau bertepatan dengan acara Majelis Suluk Sabtu Pahing  ,sebanyak 5.711.226.



Ketika menerima hadiah foto tersebut  SM (Syaikh Mustafa) menyampaikan dgn suara lirih bahwa shalawat hadiah dr kawan kawan adalah hadiah yg luar biyasa dan beliau (SM)mempersembahkannya untuk Maulana Syaikh Hisyam Kabbani (MSH),beliau (Syaikh Mustafa) tidak merasa pantas mendapat kemuliaan seperti itu.dan insyaAlloh begitu juga MSH akan mmpersembahkan nya untuk MSN begitu pula MSN akan mempersembahkannya untuk  Mawlana Syaikh abd faiz ad daghestan .. Begitu terus sampai kepada Rosululloh SAW  sendiri. 
Yang patut dipuji adalah Alloh dan Rosululloh 

Pahingan Bulan Januari Di Zawiyah Jogja Istimewa

Acara Pahingan di bulan Januari 2016  mengambil tempat di kediaman Bapak Achmad Tohirin,demikian Rundown (susunan acara ) terlampir di bawah ini.

Rundown 

Majlis Suluk Sabtu pahing 

13-14 Rabi'ustany 1437 H / 23-24 januari 2016
Lokasi Rumah Bp.Achmad Tohirin - Komperta Purwomartani no P-12,Purwomartani,Kalasan Sleman.

Sabtu, 13 Rabi'ustany
==================
02:00 qiyamullail
04:30 jama'ah subuh (dzikir adab)
06:00 shalat israq
Coffee break
08:30 burdah, sohbet dan dluha berjamaah
12:00 jamaah dzuhur (dzikir adab)
coffee break
15:30 jamaah ashar (dzikir adab)
adab harian, dalail (nafsi2), diskusi dan ramah tamah
17:00 jamaah magrib (dzikir adab)
19:00 jamaah isya (dzikir adab)
20:00 maulid dan sohbet

Ahad, 14 Rabi'utsany
==================
02:00 qiyamullail
04:30 jama'ah subuh (dzikir adab)
06:00 shalat israq
*coffee break
*ziarah


Momen yang sempat di abadikan terlihat dari gambar gambar berikut ini :


Jama'ah Pasuruan Sedang Ngobrol Santai di Ruang Tengah Kediaman Bapak Tohirin


Jamaah yang lebih dulu tiba


Beberapa jamaah yang lebih dulu tiba seperti Gus Atiq HM dari Zawiyah Pekalongan,Mas Ary Fattah dari semarang,Mas Fariz dari Bumiayu.

Pembacaan Mawlidun Nabi Muhammad SAW Bakda Isya'

Acara Pembacaan Mawlid Nabi Bakda Isya' merupakan bagian dari acara sabtu pahing itu sendiri ,Kolaborasi antara Grup Sholawat pimpinan Pak Agus Santoso dari Pasuruan Dan Kyai Danang Jogjakarta berlangsung sangat harmonis dan apik,Alhamdulillah jamaah yang hadir sampai meluber ke ruang samping rumah Bapak Tohirin,karena warga sekitar juga sangat antusias menghadiri acara ini.










Jama'ah ibu ibu terlihat sangat bersemangat mengikuti acara 





Ziarah Ke Makam Habib Ahmad Dan Mbah Bergas Tempel 

Acara Majelis Suluk Sabtu Pahing selalu di akhiri dengan berziarah ke makam Auliya' ALLAH dalam rangka menjalin pertalian dengan para Wali Wali ALLAH.........


Mawlana Syaikh Mustafa Berziarah di makam Habib Ahmad Tempel


Ziarah Di Makam Mbah Bergas Tempel



Rendevous dan Keakraban Jama'ah Naqsyabandi Nazhimiyah 

Berfoto bersama Mawlana Syaikh Mustafa


Munsyidun Ustadz Rozi Pasuruan Sedang Menyenandungkan Qasidah Shalawat Nabi


Ustadz Rozi Dan Ustadz Bahrum Sitepu Batam Kembali Di pertemukan dan akhirnya mereka berkolaborasi


Ngejamz di Teras Kediaman Bapak Tohirin








Demikian Sekelumit Acara Pahingan Tanggal 23 Januari 2016 di Jogjakarta.

Sampai Berjumpa di Acara Majelis Suluk Sabtu Pahing Berikutnya...........




Monday, February 8, 2016

Mauidoh Hasanah Syaikh Mustafa di acara mawlidurrosul dalam rangka Harlah NU ke 89, 31 Januari 2015 di Masjid Agung Demak






Kalau membicarakan NU, tidak lepas dari Gus Dur, Wahid Hasyim dan Hadrotussyaikh Kyai Hasyim Asy'ari. Beliau beliau ini adalah orang orang mulia yang sukanya memuliakan orang lain. Suatu ketika Kyai Hasyim Asy'ari sedang melakukan perjalanan dari jawa bagian barat ke arah jawa timur, beliau singgah di Tegal dan mengunjungi koleganya yaitu Kyai Ubaidillah Pegiren (Kyai Ubed). Sebagaimana dua alim bertemu, beliau berdua sholat bersama, dzikir bersama, makan dan berdiskusi. Hingga tiba saatnya, Kyai Hasyim berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya."saya ucapkan banyak terimakasih yai,saya disini sudah cukup istirahat" kata Kyai Hasyim "saya juga berterimakasih,yai berkenan singgah di gubug saya" jawab Kyai Ubed. "oiya kyai, maaf ada yang hendak saya tanyakan. bagaimana hukum warisnya jika si fulan meninggal sedang dia punya anak a,b,c,d,e lalu si anak yg b ini meninggal sedanga waris belum dibagi. menurut imam nawawi begini, sedang ibnu hajar al asqolani begitu. mana yang lebih tepat untuk di terapkan? tanya Kyai Hasyim."nyuwun maaf yai, apakah pertanyaan tadi sudah diniatkan untuk ditanyakan kepada saya sejak dari Jombang?" jawab kyai ubed. "maaf,belum yai" ujar Kyai Hasyim. "monggo saya persilakan yai meneruskan perjalanan.dan meniatkan pertanyaan tadi sejak dari Jombang. In syaa Allah jawabannya maslahat yai" jawab Kyai Ubed lagi. "nggih,In syaa Allah yai" ujar Kyai Hasyim.
Demikian luarbiasa adab Kyai Hasyim Asy'ari ini. beliau seorang yg sudah dikenal luas memiliki derajat tinggi tetapi tidak meletakkan dirinya lebih tinggi dari orang lain-kyai lain. tidak membantah, tidak berargumen dengan Kyai Ubed, inilah sikap tawadlu yang mesti kita contoh.
Demikian yang dapat kami sampaikan,secuil petikan dari mauidoh hasanah yang mestinya lebih panjang dari tulisan diatas. afwan wa syukran. 

Sunday, February 7, 2016

Keberuntungan Memiliki Seorang Pembimbing

Nabi Musa as. meminta Tuhan menunjukkan salah satu wali-Nya. Tuhan memerintahkan Nabi Musa as. untuk pergi ke sebuah lembah.
Di tempat itu, Nabi Musa as. menemukan seseorang yang berpakaian compang-camping, kelaparan, dan dikerubungi lalat.
Nabi Musa as. bertanya, “Adakah sesuatu yang dapat aku lakukan untukmu?”
Orang itu menjawab, “Wahai utusan Tuhan, tolong bawakan aku segelas air.” Ketika Nabi Musa as. kembali dengan segelas air, orang itu telah meninggal dunia. Nabi Musa as. pergi lagi untuk mencari sehelai kain untuk membungkus mayatnya, agar ia dapat menguburkannya. Ketika ia kembali ke tempat itu, mayatnya telah habis dimakan singa. Nabi Musa as. merasa tertekan, ia berdoa, “Tuhan, Engkau menciptakan semua manusia dari tanah. Ada yang berbahagia tapi ada juga yang tersiksa dan hidup menderita. Aku tak dapat mengerti ini semua.” Suara Yang Agung menjawab, “Orang itu bergantung kepada-Ku untuk semua hal. Tapi kemudian ia bergantung padamu untuk satu minuman. Dia tak boleh lagi meminta bantuan kepada orang lain kalau ia telah rida dengan-Ku.”
Kisah Nabi Musa as. tersebut yang kemudian menghampiri ruang renungku setelah Syeikh Mus selesai menuturkan kisah Beliau berhaji. Tadi malam Beliau bercerita saat Beliau meminta pertolongan seorang Madura untuk membantunya menyentuh Hajar Aswad. Belum saja tercapai keinginan tersebut, Beliau terpisah dari orang Madura itu dan terseret arus thawaf mengelilingi Kabah. Pada putaran ketiga Beliau berhasil mendekati Hajar Aswad dan berpegangan kepada bingkainya. Namun dikarenakan derasnya arus manusia yang berthawaf mengelilingi Kabah, Beliau terjatuh dan nyaris terinjak-injak oleh lautan manusia di Tanah Haram tersebut. Lalu Syeikh Mus menuturkan, ditengah perjuangannya untuk survive dari terinjak-injak oleh lautan manusia tersebut, Beliau teringat kepada Syeikh Nazim. Lalu Beliau ber-madad kepada Syeikh Nazim, dan disaat itu pula datang pertolongan, seorang pemuda yang membantunya berdiri.
Permintaan tolong Syeikh Mus kepada orang Madura tersebut adalah bentuk optimalisasi ikhtiar seorang manusia terhadap apa yang menjadi tujuan dan pengharapannya. Dan Allah Yang Maha Pencemburu, seperti pada kisah Nabi Musa as. diatas, melarang seorang yang telah Ridha dengan-Nya dan Dia ridho dengan orang tersebut, untuk bergantung kepada selain Dia. Dan itu adalah bentuk kasih sayang Allah swt. kepada mahluknya sehingga sang mahluk bisa dekat dan mengenal Penciptanya. Dengan cemburunya, Allah menuntun hambanya tersebut untuk selalu ingat kembali kepadaNya.
Namun untuk dapat ingat kepada Allah, meminta pertolongan kepadaNya melalui kekasihNya, di moment yang krusial seperti pada saat pertaruhan hidup dan mati yang dialami oleh Syeikh Mus tersebut bukanlah perkara yang sepele. Saya pernah mengalami hal yang mirip dengan itu ketika saya "latihan" suluk di Caruban beberapa waktu yang lalu.
Saat itu adalah beberapa jam terakhir sebelum saya kembali ke Jakarta. Masih ada waktu beberapa jam sebelum keberangkatan, dan saya sudah selesai berbenah. Jadi saya mengambil kesempatan itu untuk beristirahat di dalam bilik suluk. Tak lama setelah saya berbaring, ada kejadian tak terduga yang saya alami. Tiba-tiba saya seperti melayang meninggalkan tubuh saya yang terbaring dalam bilik. Saya dapat merasakan bahwa saya semakin terangkat keatas namun tidak bisa bergerak. Yang ada dipikiran saya saat itu adalah, "Wah gue mati nih!". Tiba-tiba hanya panik yang saya rasakan. tidak ada doa yang saya ingat untuk saya baca, tidak ada kalimat-kalimat mulia yang saya ingat untuk saya lafadzkan, dan tidak ada seorangpun yang saya ingat untuk meminta pertolongan. Saya hanya panik sepanik-paniknya.
Ketika kemudian hal tersebut saya ceritakan kepada Syekh Mus, saya berkata, "Boro-boro ingat Allah, boro-boro ingat Rasulullah. Ingat kepada Syekh Mus pun, tidak. Maafkan saya Syekh." Saya cium tangan Beliau, lalu Beliau berkata, sambil mengelus-elus punggung saya, "Tidak apa-apa.. tidak apa-apa."
Saya adalah murid yang paling malas dan paling bodoh. Setelah 5 tahun dalam tarekat ini saya tersadar. Untuk dapat selalu sadar dan dekat, merasakan kebersamaan dengan Allah, Rasulullah dan Mawlana dibutuhkan lebih dari sekedar wirid-wirid yang dihapal atau qasidah-qasidah yang dilantunkan. Namun yang dibutuhkan adalah iman dan keyakinan yang murni, keyakinan yang sesungguhnya, haqq ul yaqin. Keyakinan yang benar-benar terpatri didalam qalbu, bahwa tiada satupun yang dapat memberi pertolongan selain Allah swt. Kesadaran untuk berserah diri, untuk menyerahkan seluruh keinginan dan pengharapan hanya kepada Allah semata.
Keyakinan yang sebenar-benarnya ini pula yang sangat ditekankan oleh Syeikh Mus tadi malam. Berulang kali disela-sela kisah yang Beliau tuturkan, Beliau pertegas agar kami mengasah keyakinan tersebut pada diri kami. Agar kami mengolah sedemikian rupa waktu-waktu dalam kehidupan kami untuk selalu membawa Rasulullah dalam setiap tindakan dan perkataan. Agar kami sadar bahwa diri ini sungguh tidak pantas dan tidak ada apa-apanya kecuali dengan bimbingan dan pertolongan Allah.
Lalu timbul haru biru saya menyadari betapa beruntungnya saya mempunyai Guru-Guru yang mulia seperti Syeikh Nazim, Syeikh Hisyam dan Syekh Mus. Yang selalu disetiap waktunya penuh kecintaan kepada murid-muridnya. Yang dengan cintanya tersebut selalu ringan untuk membantu murid-muridnya menuju jalan yang lebih proper.
Bahkan disalahsatu kisah yang Syekh Mus tuturkan tadi malam, Beliau selalu teringat kepada murid-muridnya, dan membawanya didalam Solat dan doa-doa Beliau di Tanah Haram. Beliau adukan murid-muridnya kepada Allah, "Muridku Ya Allah.. muridku Ya Allah" bersambung seirama dengan rintihan lirih Rasulullah menjelang wafatnya, "Umatku... umatku...".
Siapa yang tidak beruntung bisa mendapatkan cinta seperti itu? Masya Allah!
November 2007, genap 5 tahun yang lalu, pertama kalinya saya bertemu Syekh Mus di Hasbi. Ada sebuah perkataan Syekh Mus yang tidak pernah saya lupa. Beliau bertanya kepada saya, "Kalau ada gelas setengahnya berisi air kotor; lalu dituangkan minyak wangi kedalamnya; jadi apa?" "Jadi air kotor..", jawabku. Sambil mengiyakan Beliau melanjutkan, "Jadi air kotor tersebut harus dibuang dulu biar bisa diisi dengan minyak wangi."
Dan itu yang Beliau tidak pernah berhenti melakukannya, terus menerus hingga sekarang. Beliau selalu membuang air kotor tersebut dari dalam hati murid-muridnya untuk diisi dengan minyak wangi kecintaan kepada Allah dan Rasulullah saw.
Satu hal yang ingin saya ucapkan kepada Syekh Mus. Syekh, maafkan kami yang selama ini menjadikanmu layaknya seorang tukang sampah. Berulang kali kami datang kepadamu membawa borok-borok dan busuknya kotoran hati kami, namun berulang kali pula engkau membuang dan membersihkannya. Betapa kami telah merendahkanmu seperti itu, namun engkau selalu menjunjung tinggi kami dalam kehangatan kasih sayangmu. Semoga Allah selalu ridho kepadamu, Syeikh Mus.
Ditulis oleh sahabat Widi Rajaka..

Shalat Khusyuk Tak Harus Bayar Mahal

”SYEH Mustofa, saya pernah ngaji di pesantren. Tetapi setiap shalat belum bisa khusyuk, mengapa? Mungkin syeh punya petunjuk dan saran ?”. Pertanyaan itu disampaikan seorang penelepon bernama Bahruddin dalam dialog interaktif dengan Syeh Mustofa Mas'ud Haqqani di Radio Dais (Dakwah Islam), Masjid Agung Jawa Tengah.

Mursyid Thoriqoh Naqsabandy Haqqani Indonesia itu menjawabnya dengan santai. ”Shalat itu disebut khusyuk apabila sudah memindahkan pusat pikiran ke hati by heart. Mana ada shalat khusyuk bisa dibeli jutaan rupiah dengan kursus dan penataran?” katanya.  

Dialog di studio Radio Dais, lantai dasar Menara Al-Husna MAJT itu dipandu oleh reporter Karno dan Sekretaris Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah Agus Fathuddin Yusuf.

Jamaah thoriqoh Syeh Musthofa tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Eropa Barat, Amerika Utara, Asia Tenggara dan lain-lain. Pimpinan tertinggi thoriqoh ini ada di Syprus yaitu Syeh Nadzim Haqqani, sedang menantunya Syeh Maulana Hisyam di Amerika Serikat.

Syeh Mustofa sendiri tak banyak menjelaskan jati dirinya. Ia hanya mengatakan asli Jombang, Jatim dan pernah kuliah di London. Menurut Prof Dr HM Amin Syukur MA, saat kuliah di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Syeh Mustofa pernah menjadi Ketua Dewan Mahasiswa. Sambil kuliah di IAIN, ia juga nyambi kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). ”Kebanyakan yang kuliah di fakultas Adab, Bahasa Inggris dan Arabnya jago-jago,” kata Amin Syukur. 

Ketika ditanya, di mana menetap bertempat tinggal? Ia mengatakan tidak tentu. Kadang di Jakarta, kadang di Semarang, Sumatera, Kalimantan, dan kadang-kadang keliling dunia. Di Semarang biasanya tempat zawiyah (tempat berkumpulnya murid-murid thoriqoh) di rumah Rosyad Ma'shum Jalan Erlangga Tengah Gang VI nomor 2. ”Kalau kebetulan ke Jawa Tengah, biasanya Syeh singgah di tempat kami. Jadwal acaranya sangat padat,” tutur Hajjah Rosyad.
Shalat Khusyuk

Masih sekitar shalat khusyuk, menurut Syeh Mustofa, latihan yang bisa dilakukan supaya khusyuk dengan cara diam sejenak berkonsentrasi sebelum mengangkat tangan takbiratul ihram. ”Aja ujug-ujug takbiratul ihram Allahu Akbar,” katanya dengan logat Jawa Timuran yang medhok. 

Saat diam dan konsentrasi tersebut gunakan untuk menghitung-hitung segala kenikmatan yang diterima beberapa saat sebelum shalat. ”Bicaralah dengan hati,” tuturnya. 

Renungkan juga beban hidup, musibah, berbagai keruwetan masalah yang dihadapi sesaat sebelum shalat. Bila beban dan persoalan itu sangat berat, sampaikan dan pasrahkan semuanya kepada Allah. ”Kalau semuanya sudah, baru takbiratul ihram Allahu Akbar. Coba resep ini, kalau sungguh-sungguh Insya Allah berhasil. Intinya jangan kesusu takbiratul ihram” katanya sambil tersenyum.


Ia menyontohkan peristiwa saat Sayidina Ali terkena panah. Ia minta para sahabatnya untuk mencabut anak panah yang menancap di punggung saat Ali terlihat sudah dalam keadaan benar-benar khusyuk. Benar saja, ketika pengaruh otak dan ego sudah hilang dan berpindah ke hati, para sahabat buru-buru mencabut anak panah. Dan Sayidina Ali tidak merasa kesakitan sedikitpun.(SM)

Sumber : http://mediajib.blogspot.co.id/2013/10/shalat-khusyuk-tak-harus-bayar-mahal.html

Saturday, April 11, 2015

Ayat Khirzi Penangkal Sihir dan Jin

786,

Pada 29 Desember lalu, di zawiyah Hasbi, ba'da Maghrib, sh Mustafa memberikan pesan kepada kita semua mengenai pentingnya melazimkan ayatul hirz di zawiyah-zawiyah maupun di pribadi kita masing-masing. Apa manfaat dari ayatul hirz? Berikut salinan dari pesan yang disampaikan oleh Sh Mustafa: