Thursday, April 28, 2016

Mauidhoh Hasanah Syaikh Mustafa Mas'ud Di Majelis Zikir Khatm Kwajagan Naqsyabandi Indonesia

   Berikut Ini Adalah Kutipan Mauidhoh Hasanah Al Mukarrom Syaikh Mustafa Mas'ud Pada Majelis Zikir Khatm Kwajagan Naqsyabandi Indonesia  Sekretariat Jl.Warung Jati Barat 2C Jakarta
Elemen hidup itu ada yg statis yaitu Nur Allah dan Nur Muhammad,keduanya akan kita bawa ke mahsyar dan harus kita upayakan kemurniannya. dan ada pula kehidupan dinamis.
Kita tidak mempertaruhkannya dengan akal fikiran,tapi senantiasa berusaha menghidupkan hati Karena fikiran tidak bisa dipakai untuk shalat karena ia akan mudah dirasuki iblis,demikian juga dalam menghadap serta menghadirkan Rasulullah, maka buanglah fikiran dan senantiasa hidupkan hati.
Ketika menyampaikan salam dan shalawat umumnya banyak orang menggunakan fikiran bukan hati di mana keikutsertaan kepada Waliyullah dapat mengimplikasikannya. Iedul fitri itu adalah lahirnya kembali fitrah kita yang berasal dari Nur Muhammad yang berasal dari Nur Allah, yang dengan shaum di bulan ramadhan dan perbaikan atas diri kita pada ramadhan itu.
Hakikat wudhu
Diantaranya saat membasuh wajah, supaya wajah kita menjadi putih pada waktu di mahsyar nanti, basuh tangan dimulai dari kanan supaya menerima buku catatan amal dengan tangan kanan, usap kepala supaya diri kita terlindungi oleh matahari yang hanya sejengkal.Membasuh kaki supaya tidak terpeleset pada waktu meniti shirotol mustaqim.
Barang siapa yang berupaya menyambungkan dirinya kepada Rasulullah, maka akan tersambung.sebaliknya, barang siapa yg memutus dan melalaikan Rosulullah, maka akan terputus hubungan dirinya dengan Rosululloh.siapapun  yang sedang ditimpa banyak masalah, perbanyaklah bershalawat.

Jakarta 28 april 2016  ~Syaikh Mustafa Mas'ud 

Monday, April 25, 2016

HAUL KE-2 SULTHON AWLIYA MAWLANA SYAIKH MUHAMMAD NAZIM ADIL HAQQANI AN NAQSHABANDI di KOTA KUDUS


Rangkaian Acara
Pada tanggal 14 april 2016 bertepatan dengan 7 Rajab 1437 adalah haul ke-2 Sulthon awliya Mawlana Syaikh Muhammad Nazim adil Haqqani an Naqshabandi.Beliau dilahirkan di Larnaka siprus 23 april 1922 (26 sya'ban 1340 H), dari jalur ibu beliau adalah keturunan dari Mawlana Jalaluddin Rumi, sedang dari jalur ayah beliau keturunan dari Syaikh Abdul Qadir Al Jilani.

Pada malam jumat yang penuh berkah kami dan jamaah dari berbagai daerah mengadakan Haul di kota Kudus tepatnya di jalan sunan muria 17 kediaman Drg.Zulfikar, bersama Al Mukarrom  Syaikh Mustafa Mas'ud.Jamaah berdatangan dari beberapa daerah, rombongan jamaah Jawa timur yang pertama datang di lokasi,disusul rombongan jamaah dari Jogja, Semarang, Pekalongan, Jakarta dan sudah tentu jamaah dari kota Kudus sendiri.Acara dimulai dengan sholat isya' berjamaah dilanjut yasin tahlil dan mawlid Nabi besar Muhammad SAW, semua jamaah larut dalam rangkaian Haul yang dipandu Syaikh Mustafa Mas'ud.

Mauidoh Hasanah
Dalam mauidoh hasanah Syaikh Mustafa mas'ud menyampaikan bahwa guru mursyid seperti Mawlana Syaikh Nazim selalu siap untuk murid muridnya dan siapapun yang membutuhkan,baik ketika beliau masih hidup seperti saat "menolong" ke 33 penambang di Chili yang terkubur hidup-hidup jauh didalam tanah.Dan menjadi lebih siap lagi saat beliau kini sudah di alam barzakh dimana fisik sudah tidak menjadi penghalang untuk menebar berkah keseluruh dunia. Begitulah karakteristik para mursyid di dalam rantai emas Naqashabandiyyah (Naqshabandi Golden Chains).
Syaikh Mustafa menceritakan pengalaman beliau ketika berziyarah kepada Mawlana Syaikh Syarafuddin ad daghestani mursyid ke-38 dalam rantai emas tarekat kita.Ketika itu beliau berada dalam hujan salju yang lebat hingga ketinggian salju dipermukaan tanah mencapai lutut orang dewasa.Dengan ditemani seorang mahasiswa indonesia yang bersekolah di damaskus, beliau bertekad menembus lebatnya hujan salju untuk mencapai makam Mawlana syaikh syarifuddin daghestani.Tiba di kaki bukit menuju makam, Syaikh Mustafa disapa oleh seorang wanita tua setempat yang membuka jendela rumahnya.
 
wanita tua : " hendak kemana anda di hujan salju yang lebat seperti ini?"
Syaikh Mustafa :" kami hendak keatas menuju makam untuk berziyarah".
wanita menimpali:"Mau mencari mati ya,dengan cuaca seperti ini menuju keatas"
Syaikh Mustafa tersenyum dan bergumam:" kami mencari hidup setelah mati."

wanita tua tersebut hanya geleng geleng kepala dan mengangkat bahu seakan mengatakan sudah kuperingatkan ya......
Syaikh Mustafa pun berjalan mengikuti jejak sepatu yang terlihat seperti barusan ada orang yang mengarah keatas bukit,namun sesampainya di atas bukit, beliau tidak menjumpai siapapun.setelah berada di dalam bangunan makam, beliau larut dalam zikir hingga waktu menjelang malam.Saat berusaha membuka pintu keluar makam ternyata tertutup oleh salju dari luar, pintupun tak bisa dibuka.Terbersit dalam pikiran beliau " duh beneran mati nih saya seperti kata wanita tua tadi".Karena dengan cuaca yang sedingin itu, berada didalam ruangan makam serasa seperti didalam lemari pendingin dimana tubuh kita tidak akan mampu bertahan lama.Kemudian beliau berdoa di dalam hati memohon pertolongan Alloh dengan perasaan khidmat kepada Syaikh Syarifuddin daghestan.
Tiba tiba dari luar terdengar seperti ada orang yang membersihkan salju didepan pintu dengan sekop, setelah suara sekop berhenti,Syaikh Mustafa mencoba membuka pintu dan berhasil, ditengok diluar sama sekali tidak ada orang atau bahkan bekas/ jejak sepatu pun tak ada.Dengan berucap syukur beliau kembali melanjutkan perjalanan ke kota untuk mengejar Flight.

Syaikh Mustafa melanjutkan cerita pengalaman yang lain ketika beliau berziyarah kepada Maulana Syaikh Abu Yazid Al Bustami mursyid ke-6 dalam mata rantai emas tarekat kita.Saat itu beliau memenuhi undangan atase kedubes Indonesia di Iran untuk mengisi pengajian di sana.setelah pengajian selesai, Beliau Syaikh Mustafa bersama Bapak Duta Besar Indonesia Untuk Iran melakukan perjalanan untuk berziyarah, salah satunya di makam Mawlana Syaikh Abu Yazid Al Bustami, saat di perjalanan beliau berkata " Pak, harap menjaga suasana hati. apa saja yang terbersit di fikiran bapak saat ini, sudah bisa terbaca oleh Syaikh Abu Yazid Al Bustami lho"
" baik pak " jawab Bapak Duta Besar.
Sesampainya di makam suasana masih lengang, beliau melihat pintu makam terbuka lalu Syaikh Mustafa dan rombongan masuk kedalam bangunan makam, dalam zikirnya sepintas Syaikh Mustafa melihat ada seorang warga setempat mengintip dari luar ruangan makam yang belakangan diketahui sebagai penjaga makam.Setelah selesai berzikir beliau disapa oleh si penjaga makam, dengan bantuan seorang penerjemah bahasa persia beliau bercakap sejenak, yang kesimpulannya si penjaga merasa tersanjung dengan kehadiran rombongan dan mengungkap bahwa sebenarnya tidak diperkenankan masuk kedalam ruangan makam, namun karena tidak ingin mengganggu ke kusyuk-an ziyarah  maka si penjaga membiarkan Syaikh Mustafa menyelesaikan zikirnya.Hal yang diluar dugaan pun terjadi alih alih pelarangan masuk keruangan makam  si penjaga malah menawarkan kepada Syaikh mustafa untuk melihat ruangan Khalwat Mawlana Syaikh Abu Yazid Al Bustami.Rupanya tidak sembarang orang ditunjukkan ruangan tersebut, terlihat dari lorong menuju tempat khalwat  yang penuh sarang laba laba.Syaikh mustafa menggambarkan ruangan khalwat tersebut kira-kira seluas tempat kami mengadakan acara Haul malam itu dengan mihrab didalamnya,terasa aura yang sangat menggugah hati, untuk menggambarkan bahwa ditempat itulah setiap elemen partikel menjadi saksi atas Mawlana Syaikh Abu yazid al bustami selama khalwatnya.Bapak Duta Besar pun duduk menangis di mihrab ruangan itu menumpahkan semua perasaan beliau.

Akhir Acara
Syaikh Mustafa menutup mauidoh nya dengan salah satu ungkapan beliau bahwa sejatinya kita mengenal Rosululloh, bisa dilihat dengan air mata yang mengalir dan perasaan haru ketika berlangsungnya Mawlid Nabi, itulah fitrah perasaan rindu kepada kekasih Allah yaitu  Rosululloh Muhammad SAW, sebagaimana bapak duta besar tersebut menangis di mihrab khalwat.
Sejenak sebelum acara berakhir, Gus Shofa yang seorang vokalis Ahbabul Musthofa / Murid dari Habib Syech bin Abdul qadir assegaf menyampaikan sepatah dua patah kata yang pada intinya, betapa Habibana sangat mengenal, menghormati dan mencintai Mawlana Syaikh Muhammad Nazim, Mawlana Syaikh Muhammad Hisyam kabbani serta Syaikh Mustafa Mas'ud. dimana beliau Habibana memperuntukkan beberapa Qasidah untuk beliau beliau.Di setiap acara Mawlid dan Sholawat Habibana Syech bin Abdul qadir assegaf senantiasa bertawassul kepada Mawlana Syaikh Bahauddin an Naqshabandi, sebagai perwujudan hurmat takdzim beliau pada tarekat Naqshabandiyya.

Akhirul kalam wabillahitaufiq wal hidayah,Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
semoga kita selalu dituntun oleh Mawlana Syaikh Muhammad Nazim.



(foto edit peringatan Haul MSN di sebagian daerah di Indonesia)
(Suasana Haul di Kudus)

Resonansi Gus Shofa (vocal Ahbabul Musthofa / murid dari Habib Syech bin Abdulqadir Asegaf)





Sunday, April 17, 2016

Dialog Syaikh Mustafa Mas'ud Dengan Seorang Murid Tentang Kecerdasan Spiritual


Suatu Ketika Seorang murid  meminta pendapat dan saran dari Beliau Syaikh Mustafa mengenai Tulisan yang dia buat tentang Kecerdasan Spiritual

Assalamualaikum. .
Syaikh Mus,
mohon komentar dan masukan nya tentang hal dibawah ini buat kita semua
Pengingat untuk Diri saya sendiri, mudah-mudahan bermaanfaat....

Kecerdasan Spiritual

Fenomena yg terjadi saat ini sangat memprihatinkan. Kita dikenal sebagai bangsa yang religius,

Banyak orang taat beragama, tempat ibadah ada dimana-mana......
Tapi ternyata kejahatan terus terjadi, korupsi dan fitnah merajalela......

 Hal ini menunjukkan bahwa kita tdk mampu membawa perbedaan antara yang beragama dengan yang tidak.

Kita masih terpaku pada “religius”, bukan “spiritual”.

Menurut definisi awam, orang religius adalah orang yang agamis, rajin ibadah,

terkadang dari penampilannya terlihat (sengaja diperlihatkan), menampilkan simbol-simbol agama.

Orang spiritual adalah orang yang baik, bukan hanya dlm menjalankan perintah agama saja, atau di tempat ibadah saja, tapi ia baik dimanapun ia berada.

Ada 5 perbedaan antara religius dengan spiritual :

1. Orang religius adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada.

 Sedangkan orang spiritual adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu hadir.

Orang melakukan perbuatan tidak baik karena ia berpikir Tuhan hanya ada, tapi tidak hadir.

Sedangkan orang spiritual berpikir bahwa Tuhan ada di manapun dia berada.

2. Orang religius adalah orang yang merasa paling suci dan paling benar.

Orang spiritual adalah orang yang melihat semua orang adalah setara, semua punya kelebihan dan kekurangan.

3. Orang religius adalah orang yang mudah melihat perbedaan, dan sensitif dengan perbedaan.

Orang spiritual adalah orang yang mudah melihat persamaan, mau menerima perbedaan, mau mendengarkan orang lain.

4. Orang religius adalah orang yang hanya mementingkan simbol-simbol agama dan ritual agama saja.

Orang spiritual adalah orang yg menyembunyikan ibadahnya dari orang lain, dan mempraktekkan keagamaan nya dimanapun dan kapanpun.

5. Orang religius adalah orang yg baik dalam urusan ibadah saja.

Orang spiritual adalah orang yang baik dalam semua urusan, karena menganggap semua urusan adalah ibadah.

Tanpa spiritual, ibadah yang dilakukan hanya menjadi ritual semata.

Ritual agama diperlukan, tapi harus dilakukan dengan kesadaran dan cinta kepada Tuhan.

Religius adalah cara untuk meraih spiritual.

Kita bisa menjadi spiritual tanpa melakukan hal-hal yang religius.

Tapi hal itu tidaklah lengkap, karena beragama tanpa ibadah tidaklah lengkap.

Untuk menjadi orang yang spiritual kita harus ingat dengan esensi dan hakekat kita ada di dunia ini, dan mencari makna dari setiap yang kita lakukan.

6. Orang religius exclusive.  Orang spiritual membumi.
....

# jadilah seorang yang religius dengan kecerdasan spiritual.

Berikut ini Jawaban Beliau Syaikh Mustafa Atas Tulisan seorang murid yang meminta saran dan nasehat Di atas:

Jawaban:
Waalaikum salam wr wb

Saya ada pengalaman tentang keheranan Dr. Rico yang seorang warga keturunan ketika bertemu saya dibandara semarang, dia duduk disebelahku.
saat itu saya  sedang membaca dalail khoirot,dia tertegun melihat saya yg hanya ber tshirt dan celana santai.
kami sama sama nunggu flight dia lalu bilang:" maaf bapak membaca ini semua? saya kenal baik orang yang juga baca buku seperti itu,GUSDUR ".
"oh ya?"jawab Syaikh Mustafa sambil tersenyum kecil...
Lalu kami ngobrol panjang lebar, Habib Ali  Basyir Alkaff yg  dibelakang saya hanya senyum senyum sebab dr.Rico suruh klrg dia foto2 kmi,
lalu kmi janji utk saling singgah.
(Tulisan Seorang Murid di atas tadi) Hampir bener semua, cuma terkilir sedikit kata kuncinya ,kita mesti hidupkan temali hati kita dengan Nabi Muhammad SAW
(via mata rantainya tarekat atau rasakan kehadiran beliau) sedemikian rupa, tidak terdeterminasi lagi semata-mata oleh pegertian/fikiran,
sebab fikiran itu sebenarnya alat untuk dinamisasi langkah kebaikan bukan sebagai pengendali lagi, kita tidak akan bisa berada dalam spiritualitas tanpa melakukan hal yang religius ( religiousity + spirituality itu keduanya seperti dua telapak tangan tidak dapat dibelah /dipisahkan)
Nice to see your mind

Tuesday, April 12, 2016

Ziarah Syaikh Mustafa Ke Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli Sumatera Barat



Shaikh Mustafa bersama shaikh Himdan dari mesir
Shaikh Mustafa bersama Shaikh Himdan dari mesir



Saat ziarah di Shaikh Sulaiman arrasuli




Beberapa Waktu yang lalu Syaikh Mustafa Berziarah Ke Makam Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli Al Khalidi ,Siapakah Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli ? dapat anda simak lewat Tulisan berikut ini :


[ Syekh Sulaiman ar-Rasuli al-Khalidi (1871-1970) ]

Syekh Sulaiman ar-Rasuli atau yang dikenal dengan Angku Canduang nan Mudo dan Inyiak Canduang ini ialah salah seorang diantara ulama besar Minangkabau yang begitu terkemuka. Setelah wafatnya ulama-ulama, seperti Syekh Muhammad Sa’ad Mungka dan Syekh Khatib ‘Ali, maka beliaulah yang dituakan dikalangan kaum Tua dan yang memimpinnya.

Sangatlah besar perjuangan beliau, apakah dalam membentengi mazhab Syafi’i dan Ahlussunnah, dalam bidang pendidikan dan tak ketinggalan dalam medan perjuangan kemerdekaan. Dalam wadah ulama-ulama Tua, Perti, beliaulah yang menjadi sesepuhnya, disamping ulama-ulama besar lainnya.

Dalam pendidikan, beliau telah membuat model baru lembaga pendidikan sebagai pelanjut surau, model ala Madrasah yang dinamai dengan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), dan kemudian tersebar ratusan banyaknya diberbagai penjuru Minangkabau.

Syekh Sulaiman dilahirkan di Candung pada tahun 1871 dari keluarga yang religius. Ayah beliau, Syekh Muhammad Rasul, seorang ulama terkemuka yang digelari dengan Angku Mudo Pakan Kamis. Dimasa belianya, Syekh Sulaiman belajar al-Qur’an kepada Tuan Syekh Muhammad Arsyad Batu Hampar.

Setelah menamatkan al-Qur’an, beliau kemudian belajar ilmu alat kepada Syekh Tuanku Sami’ Biaro. Beberapa lama di Biaro, beliau menuju Sungayang bersama guru tuo beliau Tuanku Qadhi Salo, ulama yang dituju di Sungayang ialah Tuan Syekh yang dimasyhurkan dengan Tuanku Kolok (nenek dari Prof. Mahmud Yunus), alim fiqih terutama dalam ilmu Faraidh. Wafat Tuanku Kolok, Syekh Sulaiman melanjutkan pelajarannya kepada Tuan Syekh Abdussalam Banuhampu.

Beselang berapa lama, beliau pindah ke Sungai Dareh Situjuah Payakumbuh. Tak berapa lama di Situjuah, Syekh Sulaiman dengan isyarat guru dan ayahanda beliau berangkat ke Halaban. Ulama yang dituju ialah seorang alim yang masyhur dalam tigo luak, yaitu Tuan Syekh Abdullah “Beliau Halaban” (w. 1926). Lama beliau di Halaban, yaitu 7 tahun.

Di sini beliau mendapat kepercayaan Syekh Abdullah untuk menjadi “guru tuo”, sampai beliau diambil menantu oleh Tuan Syekh tersebut. Oleh karena ilmu yang telah mumpuni, beliau disuruh pulang oleh Tuan Syekh Abdullah untuk mengembangkan ilmu yang telah didapat dikampung halamannya, Candung. Setelah itu Syekh Sulaiman pulang, mengajar di kampung selama 6 bulan lamanya, kemudian berangkat ke Mekah untuk menunaikan rukun Islam ke lima dan menambah ilmu pengetahuan.

Di Mekah, Syekh Sulaiman belajar kepada ulama-ulama kenamaan, yaitu Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Mukhtar ‘Atharid as-Shufi, Sayyid Ahmad Syatha al-Makki, Syekh Usman as-Sarawaki dan Syekh Muhammad Sa’id Ba Bashil Mufti Syafi’i. Adapun vak keilmuan yang beliau dipelajari di Mekah mencakup ilmu ‘Arabiyah (ilmu alat), Fiqih, Tafsir, Hadist, Tasawuf dan lainnya.

Pada tahun 1907 beliau pulang ke tanah kelahirannya, dan kemudian melakukan langkah perjuangan. Mula-mula beliau melanjutkan Halaqah di kampung halamannya. Halaqah ini berkembang pesat dengan didatangi oleh murid-murid yang ramai dari berbagai penjuru negeri.

Pada tahun 1928, Halaqah ini kemudian beliau ubah menjadi Madrasah dengan nama Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Perobahan ini diikuti oleh halaqah-halaqah surau lainnya di Minangkabau. Selanjutnya beliau menfasilitasi pertemuan ulama-ulama Minangkabau di Candung pada tahun 1930. Pertemuan ini menelorkan kesepakatan untuk mendirikan PTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), cikal bakal Perti. Organisasi ini mencapai puncak kejayaannya hingga dasawarsa ke 7 abad XX.

Hampir seluruh ulama-ulama Tua Minangkabau menjadi penyokong wadah persatuan ini. setelah zaman kemerdekaan, Perti ditingkatkan statusnya menjadi Partai Politik Perti dan berpusat di Jakarta. Pada waktu itulah Perti benar-benar dikenal luas dan keberadaannya menusantara.

Disamping sebagai seorang ulama besar, beliau juga dikenal selaku ahli adat. Kepakaran beliau memang diakui oleh masyarakat luas, hingga beliau diundang oleh penguasa gunung Sahilan untuk menyelesaikan sengketa adat. Beliau, Syekh Sulaiman, merupakan pribadi yang disegani kawan maupun lawan.

Oleh karenanya, para pejabat pemerintahan dan pimpinan Belanda merasa perlu merapatkan diri kepada Beliau.
Adapun dalam faham keagamaan, sangat besar perjuangan beliau dalam mempertahankan Mazhab Syafi’i, aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan Tarikat Naqsyabandiyah.

Mengenai poin terakhir, Tarikat Naqsyabandiyah, semula beliau merupakan seorang yang anti pula, sebagai gurunya Syekh Ahmad Khatib. Namun setelah pertemuannya dengan Tuan Syekh Arsyadi Batu Hampar, dan bertukar fikiran berapa lama, kemudian beliau menyatakan khilaf dan bertaubat dihadapam Tuan Syekh Batu Hampar tersebut dengan berlinang air mata.

Setelah itu beliau bersuluk dengan bimbingan Syekh tersebut pada tahun 1341 H dan mendapat ijazah dalam istilah Naqsyabandiyah. Sepulang khatwat tersebut beliau keras mempertahankan Tarikat Naqsyabandiyah, apakah dalam tabligh-tabligh, karangan-karangan maupun dalam debat terbuka, seperti muzakarah dengan Syekh Thaher Jalaluddin al-Falaki di Mesjid Jami’ Pasia. Dalam wadah Perti, bersama ulama-ulama Minangkabau yang sehaluan, beliau berusaha kuat untuk membentengi faham lama itu dari rongrongan kaum muda tersebut.

Begitulah keulamaan Syekh Sulaiman ar-Rasuli. Disamping meninggalkan murid-murid yang banyak, Syekh Sulaiman juga mewariskan karya-karya yang banyak kepada generasi selanjutnya. Hal ini menunjukkan bahwa beliau memang seorang yang besar, selain masyhur dengan murid-murid yang ramai, beliau juga seorang yang sangat produktif menulis.

Ada satu kekhasan dalam karya-karya beliau, disamping menulis dalam bahasa Arab dan bahasa Jawi-Minang, beliau gemar menulis dengan gaya sya’ir layaknya pujangga, sehingga jadilah karya-karya beliau disamping memiliki muatan keagamaan, juga merupakan bentuk sastra yang saat itu sangat laris.

Sampai-sampai dalam surat-surat beliau, apakah kepada istri dan anak-anaknya ditulis dengan gaya bersyair ini. salah satunya kita tampilkan disini sebuah sya’ir beliau yang menerangkan keinginan untuk tinggal mengaji di Mekkah, namun mengingat ummi beliau yang tidak mau berpisah dengan beliau, niat itu beliau urungkan:

Waktu mengarang faqir khabarkan
Di negeri candung tinggallah badan
Hati terbang kesubarang lautan
Ke negeri Mekah biladul Aman

Sungguh nak pindah di dalam hati
Tetapi ada seorang ummi
Ibuku kandung belahan hati
Dimana mungkin meninggalkan negeri

Ibuku sakit tidaklah sehat
Dimana mungkin dibawa hijrat
Jalanpun jauh tidaklah dekat
Barangkali sembahyang dijalan tidaklah dapat

Seputar kaum Muda, Syekh Sulaiman juga banyak menulis bait-bait sya’ir untuk menyatakan fasad-nya faham mereka. Dengan nada sindiran, beliau menyerang sendi-sendi gugatan kaum muda tersebut. Dan tak ketinggalan menasehati kaum muslimin agar tidak terpedaya dengan faham yang seperti itu. Diantara ungkapan beliau ialah:

Sekarang ada orang yang ingkar
Sudah masyhur didengar khabar
Namanya tidak hamba mendengar
Entah siapa nama yang mu’tabar

Khabarnya sudah hamba dengarkan
Ushalli fardhuz zhuhr ianya ingkar
Ibarat ulama hambar naqalkan
Dibelakang ini hamba tuliskan

Wahai sahabat taulan yang nyata
Orang yang muqallid namanya kita
Mengikut mujtahid yang punya kata
Jangan diikut faham yang dusta

Jangan dicari ke dalam Qur’an
Hadistnya nabi-pun demikian
Mujtahid mutlak punya bahagian
Nasi yang masak hendaklah makan

Kita nan tidak tahu bertanak
Api dan kayu tungkupun tidak
Hendaklah makan nasi yang masak
Orang yang cerdik janganlah gagak

Jikalau batanak tidak bakayu
Demikian lagi tidak bertungku
Lambek menahun nasinya tentu
Itu misalnya fiqir olehmu

Karya-karya Syekh Sulaiman ar-Rasuli yang telah teridentifikasi sebanyak 22 judul. Besar kemungkinan masih banyak karya-karya Syekh Sulaiman yang belum tercatat.

(Ditulis oleh : Engku Mudo Apria Putra, penulis buku "Bibliografi Ulama Minangkabau" )

http://surautuo.blogspot.co.id/2012/04/ulama-besar-minangkabau-syekh-sulaiman.html

Syaikh Himdan sendiri mengabdikan hidupnya selama 3thn meneruskan dakwah sh sulaiman arrasuli di sekitar bukit tinggi,
Syaikh Mustafa secara pribadi di minta oleh habib ali basir alkaff utk ziarah ke Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli.