Sunday, February 7, 2016

Keberuntungan Memiliki Seorang Pembimbing

Nabi Musa as. meminta Tuhan menunjukkan salah satu wali-Nya. Tuhan memerintahkan Nabi Musa as. untuk pergi ke sebuah lembah.
Di tempat itu, Nabi Musa as. menemukan seseorang yang berpakaian compang-camping, kelaparan, dan dikerubungi lalat.
Nabi Musa as. bertanya, “Adakah sesuatu yang dapat aku lakukan untukmu?”
Orang itu menjawab, “Wahai utusan Tuhan, tolong bawakan aku segelas air.” Ketika Nabi Musa as. kembali dengan segelas air, orang itu telah meninggal dunia. Nabi Musa as. pergi lagi untuk mencari sehelai kain untuk membungkus mayatnya, agar ia dapat menguburkannya. Ketika ia kembali ke tempat itu, mayatnya telah habis dimakan singa. Nabi Musa as. merasa tertekan, ia berdoa, “Tuhan, Engkau menciptakan semua manusia dari tanah. Ada yang berbahagia tapi ada juga yang tersiksa dan hidup menderita. Aku tak dapat mengerti ini semua.” Suara Yang Agung menjawab, “Orang itu bergantung kepada-Ku untuk semua hal. Tapi kemudian ia bergantung padamu untuk satu minuman. Dia tak boleh lagi meminta bantuan kepada orang lain kalau ia telah rida dengan-Ku.”
Kisah Nabi Musa as. tersebut yang kemudian menghampiri ruang renungku setelah Syeikh Mus selesai menuturkan kisah Beliau berhaji. Tadi malam Beliau bercerita saat Beliau meminta pertolongan seorang Madura untuk membantunya menyentuh Hajar Aswad. Belum saja tercapai keinginan tersebut, Beliau terpisah dari orang Madura itu dan terseret arus thawaf mengelilingi Kabah. Pada putaran ketiga Beliau berhasil mendekati Hajar Aswad dan berpegangan kepada bingkainya. Namun dikarenakan derasnya arus manusia yang berthawaf mengelilingi Kabah, Beliau terjatuh dan nyaris terinjak-injak oleh lautan manusia di Tanah Haram tersebut. Lalu Syeikh Mus menuturkan, ditengah perjuangannya untuk survive dari terinjak-injak oleh lautan manusia tersebut, Beliau teringat kepada Syeikh Nazim. Lalu Beliau ber-madad kepada Syeikh Nazim, dan disaat itu pula datang pertolongan, seorang pemuda yang membantunya berdiri.
Permintaan tolong Syeikh Mus kepada orang Madura tersebut adalah bentuk optimalisasi ikhtiar seorang manusia terhadap apa yang menjadi tujuan dan pengharapannya. Dan Allah Yang Maha Pencemburu, seperti pada kisah Nabi Musa as. diatas, melarang seorang yang telah Ridha dengan-Nya dan Dia ridho dengan orang tersebut, untuk bergantung kepada selain Dia. Dan itu adalah bentuk kasih sayang Allah swt. kepada mahluknya sehingga sang mahluk bisa dekat dan mengenal Penciptanya. Dengan cemburunya, Allah menuntun hambanya tersebut untuk selalu ingat kembali kepadaNya.
Namun untuk dapat ingat kepada Allah, meminta pertolongan kepadaNya melalui kekasihNya, di moment yang krusial seperti pada saat pertaruhan hidup dan mati yang dialami oleh Syeikh Mus tersebut bukanlah perkara yang sepele. Saya pernah mengalami hal yang mirip dengan itu ketika saya "latihan" suluk di Caruban beberapa waktu yang lalu.
Saat itu adalah beberapa jam terakhir sebelum saya kembali ke Jakarta. Masih ada waktu beberapa jam sebelum keberangkatan, dan saya sudah selesai berbenah. Jadi saya mengambil kesempatan itu untuk beristirahat di dalam bilik suluk. Tak lama setelah saya berbaring, ada kejadian tak terduga yang saya alami. Tiba-tiba saya seperti melayang meninggalkan tubuh saya yang terbaring dalam bilik. Saya dapat merasakan bahwa saya semakin terangkat keatas namun tidak bisa bergerak. Yang ada dipikiran saya saat itu adalah, "Wah gue mati nih!". Tiba-tiba hanya panik yang saya rasakan. tidak ada doa yang saya ingat untuk saya baca, tidak ada kalimat-kalimat mulia yang saya ingat untuk saya lafadzkan, dan tidak ada seorangpun yang saya ingat untuk meminta pertolongan. Saya hanya panik sepanik-paniknya.
Ketika kemudian hal tersebut saya ceritakan kepada Syekh Mus, saya berkata, "Boro-boro ingat Allah, boro-boro ingat Rasulullah. Ingat kepada Syekh Mus pun, tidak. Maafkan saya Syekh." Saya cium tangan Beliau, lalu Beliau berkata, sambil mengelus-elus punggung saya, "Tidak apa-apa.. tidak apa-apa."
Saya adalah murid yang paling malas dan paling bodoh. Setelah 5 tahun dalam tarekat ini saya tersadar. Untuk dapat selalu sadar dan dekat, merasakan kebersamaan dengan Allah, Rasulullah dan Mawlana dibutuhkan lebih dari sekedar wirid-wirid yang dihapal atau qasidah-qasidah yang dilantunkan. Namun yang dibutuhkan adalah iman dan keyakinan yang murni, keyakinan yang sesungguhnya, haqq ul yaqin. Keyakinan yang benar-benar terpatri didalam qalbu, bahwa tiada satupun yang dapat memberi pertolongan selain Allah swt. Kesadaran untuk berserah diri, untuk menyerahkan seluruh keinginan dan pengharapan hanya kepada Allah semata.
Keyakinan yang sebenar-benarnya ini pula yang sangat ditekankan oleh Syeikh Mus tadi malam. Berulang kali disela-sela kisah yang Beliau tuturkan, Beliau pertegas agar kami mengasah keyakinan tersebut pada diri kami. Agar kami mengolah sedemikian rupa waktu-waktu dalam kehidupan kami untuk selalu membawa Rasulullah dalam setiap tindakan dan perkataan. Agar kami sadar bahwa diri ini sungguh tidak pantas dan tidak ada apa-apanya kecuali dengan bimbingan dan pertolongan Allah.
Lalu timbul haru biru saya menyadari betapa beruntungnya saya mempunyai Guru-Guru yang mulia seperti Syeikh Nazim, Syeikh Hisyam dan Syekh Mus. Yang selalu disetiap waktunya penuh kecintaan kepada murid-muridnya. Yang dengan cintanya tersebut selalu ringan untuk membantu murid-muridnya menuju jalan yang lebih proper.
Bahkan disalahsatu kisah yang Syekh Mus tuturkan tadi malam, Beliau selalu teringat kepada murid-muridnya, dan membawanya didalam Solat dan doa-doa Beliau di Tanah Haram. Beliau adukan murid-muridnya kepada Allah, "Muridku Ya Allah.. muridku Ya Allah" bersambung seirama dengan rintihan lirih Rasulullah menjelang wafatnya, "Umatku... umatku...".
Siapa yang tidak beruntung bisa mendapatkan cinta seperti itu? Masya Allah!
November 2007, genap 5 tahun yang lalu, pertama kalinya saya bertemu Syekh Mus di Hasbi. Ada sebuah perkataan Syekh Mus yang tidak pernah saya lupa. Beliau bertanya kepada saya, "Kalau ada gelas setengahnya berisi air kotor; lalu dituangkan minyak wangi kedalamnya; jadi apa?" "Jadi air kotor..", jawabku. Sambil mengiyakan Beliau melanjutkan, "Jadi air kotor tersebut harus dibuang dulu biar bisa diisi dengan minyak wangi."
Dan itu yang Beliau tidak pernah berhenti melakukannya, terus menerus hingga sekarang. Beliau selalu membuang air kotor tersebut dari dalam hati murid-muridnya untuk diisi dengan minyak wangi kecintaan kepada Allah dan Rasulullah saw.
Satu hal yang ingin saya ucapkan kepada Syekh Mus. Syekh, maafkan kami yang selama ini menjadikanmu layaknya seorang tukang sampah. Berulang kali kami datang kepadamu membawa borok-borok dan busuknya kotoran hati kami, namun berulang kali pula engkau membuang dan membersihkannya. Betapa kami telah merendahkanmu seperti itu, namun engkau selalu menjunjung tinggi kami dalam kehangatan kasih sayangmu. Semoga Allah selalu ridho kepadamu, Syeikh Mus.
Ditulis oleh sahabat Widi Rajaka..

0 comments :

Post a Comment