Monday, February 8, 2016

Mauidoh Hasanah Syaikh Mustafa di acara mawlidurrosul dalam rangka Harlah NU ke 89, 31 Januari 2015 di Masjid Agung Demak






Kalau membicarakan NU, tidak lepas dari Gus Dur, Wahid Hasyim dan Hadrotussyaikh Kyai Hasyim Asy'ari. Beliau beliau ini adalah orang orang mulia yang sukanya memuliakan orang lain. Suatu ketika Kyai Hasyim Asy'ari sedang melakukan perjalanan dari jawa bagian barat ke arah jawa timur, beliau singgah di Tegal dan mengunjungi koleganya yaitu Kyai Ubaidillah Pegiren (Kyai Ubed). Sebagaimana dua alim bertemu, beliau berdua sholat bersama, dzikir bersama, makan dan berdiskusi. Hingga tiba saatnya, Kyai Hasyim berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya."saya ucapkan banyak terimakasih yai,saya disini sudah cukup istirahat" kata Kyai Hasyim "saya juga berterimakasih,yai berkenan singgah di gubug saya" jawab Kyai Ubed. "oiya kyai, maaf ada yang hendak saya tanyakan. bagaimana hukum warisnya jika si fulan meninggal sedang dia punya anak a,b,c,d,e lalu si anak yg b ini meninggal sedanga waris belum dibagi. menurut imam nawawi begini, sedang ibnu hajar al asqolani begitu. mana yang lebih tepat untuk di terapkan? tanya Kyai Hasyim."nyuwun maaf yai, apakah pertanyaan tadi sudah diniatkan untuk ditanyakan kepada saya sejak dari Jombang?" jawab kyai ubed. "maaf,belum yai" ujar Kyai Hasyim. "monggo saya persilakan yai meneruskan perjalanan.dan meniatkan pertanyaan tadi sejak dari Jombang. In syaa Allah jawabannya maslahat yai" jawab Kyai Ubed lagi. "nggih,In syaa Allah yai" ujar Kyai Hasyim.
Demikian luarbiasa adab Kyai Hasyim Asy'ari ini. beliau seorang yg sudah dikenal luas memiliki derajat tinggi tetapi tidak meletakkan dirinya lebih tinggi dari orang lain-kyai lain. tidak membantah, tidak berargumen dengan Kyai Ubed, inilah sikap tawadlu yang mesti kita contoh.
Demikian yang dapat kami sampaikan,secuil petikan dari mauidoh hasanah yang mestinya lebih panjang dari tulisan diatas. afwan wa syukran. 

0 comments :

Post a Comment